BogorGate.com – Pendidikan sosial anak usia dini diberikan dengan tujuan untuk membentuk citra diri yang baik dalam masyarakat. Anak usia dini merupakan cikal bakal seorang dewasa yang juga menjadi bagian dari masyarakat baik lingkungan rumah, sekolah, atau berbagai kelompok sosial lainnya. Oleh karena itu, penting bagi anak untuk belajar di pendidikan anak usia dini atau yang biasa dikenal dengan PAUD.

Pendidikan Sosial sendiri termasuk dalam proses pengembangan salah satu ranah kecerdasan majemuk, yakni kecerdasan interpersonal. Saat seorang anak memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi, ia akan bisa membaur dengan suasana baru. Tidak hanya itu, kecakapan sosial secara lebih luas juga akan sangat berguna bagi anak dalam membangun hubungan baik profesional maupun emosional.

Anak usia dini memiliki sifat bawaan dan pengaruh lingkungan yang kuat. Karena itu, untuk menciptakan karakter sosial yang positif orangtua sebagai pembelajar pertama anak harus memberikan contoh dan teladan dalam bertindak. Anak memulai pembelajarannya dalam fase melihat, peduli, memperhatikan, mendengar, mengasosiasi dan mencontoh. Adakalanya anak hanya membeo apa yang dikatakan dan dilakukan tanpa mengetahui artinya.

Jadi, jika suatu saat anak bertindak kurang sopan, bisa jadi ia telah mengalami suatu hal seperti pembelajaran yang tidak disadarinya. Entah tetangga atau keluarga, pasti anak pernah melihat suatu ketidaksopanan yang dilakukan seseorang sehingga dapat mencontohnya. Mencari dan menghilangkan pengaruh orang yang bersangkutan memiliki poin lebih penting daripada memarahi anak.

Campur tangan orangtua yang berlebihan juga bisa berdampak negatif bagi anak. Contohnya saat anak terlibat masalah sederhana dengan temannya. Orang tua yang terlalu membela anak, bahkan sampai memarahi teman anaknya karena pertengkaran kecil akan menimbulkan dampak buruk. Bisa – bisa, anak merasa sombong dan malah menjadi pribadi yagn arogan.

Agar pendidikan sosial bagi anak usia dini bisa menuai manfaat maksimalnya, harus ada kekompakan dan sinergi antara ibu dan ayah. Kedua figur tersebut sangat penting baik bagi anak perempuan maupun anak laki – lagi. Rata – rata anak usia dini akan meniru apapun gaya sosialisasi orangtuanya. Hal ini bisa berlanjut hingga anak beranjak dewasa jika ada sisi pengidolaan anak pada orangtua. Biasanya hal ini terjadi pada anak yang memiliki keluarga harmonis, dan ayah tidak sering marah atau membentak.

Sebaliknya, manfaat pendidikan sosial bagi anak usia dini tidak akan maksimal jika orangtua tidak bersinergi. Misalnya ayah yang terlalu keras mendidik dan ibu yang terlalu lemah. Dualisme pendidikaan atau pengasuhan juga bisa menjadi faktor penghancur kepribadian sosial anak. Maksud dai dualisme pendidikan adalah anak tidak hanya dibesarkan oleh orangtua, tetapi juga nenek, kakek, paman, bibi, atau orang dewasa lainnya. (adv)